Thursday 4 August 2011

Isu Baptisan Percik Dan Baptisan Ulang

“Baptism is an unrepeatable act. Any practice which might be interpreted as ‘re-baptism’ must be avoided.” (WCC, Baptism, Eucharist and Ministry, 1982, no. 13)

“Oleh karena itu, di dalam menerima perpindahan keanggotaan gereja dari warga gereja di lingkungan PGI, kami tidak melakukan pembaptisan ulang, melainkan hanya mengumumkannya di dalam kebaktian jemaat.” (PGI, Piagam Saling Mengakui dan Saling Menerima, 1989, Bab V)

Baptisan Kudus sebagai Tanda dan Meterai

Di dalam gereja-gereja Protestan arus utama, baptisan kudus merupakan satu dari dua sakramen yang diakui. Sakramen yang lain adalah perjamuan kudus. Sakramen diyakini sebagai tanda dan meterai keselamatan dari Allah. Sebagai tanda dan meterai, sakramen tidak memiliki efek keselamatan pada dirinya sendiri. Allahlah yang menyelamatkan melalui anugerah-Nya. Namun, keselamatan yang dianugerahkan itu memerlukan tanda yang kelihatan dan meterai yang membuktikan keselamatan tersebut. Dan itulah fungsi dari sakramen. Atau dengan meminjam kata-kata Agustinus, yang juga dipakai oleh Calvin, sakramen adalah “tanda yang kelihatan dari anugerah yang tak kelihatan” (visible form of an invisible grace).

Sebagai tanda dan meterai, sakramen tidak punya makna apa-apa pada dirinya sendiri. Ia punya arti sejauh diletakkan dalam konteks rahmat dan janji Allah. Prinsip ini teramat penting untuk menyiasati pertikaian yang eksesif (berlebihan) seputar cara baptisan (selam atau percik) atau seputar siapa yang boleh dibaptis (anak-anak dan dewasa). Hendaklah dalam percakapan ini kita senantiasa mengingat bahwa dalam teologi Protestan rahmat Allah itulah yang terpenting–fokus padanya tak boleh dibelokkan oleh percakapan yang justru memeras energi kita secara berlebihan.

Percik sebagai Cara Baptisan Kudus

Sejak awal saya harus memberi peringatan bahwa bagi gereja kita (GKI) cara baptisan bukanlah isu yang mendasar. Yang jauh lebih penting adalah makna apa yang mau dibawa oleh cara baptisan. Akan tetapi, di dalam kenyataannya, perdebatan mengenai cara selalu memanas karena sekelompok Kristen memang sangat mementingkan cara baptisan sebagai pengesah baptisan itu sendiri. Sikap mereka berujung pada praktik penolakan baptisan percik yang sudah diterima oleh seorang Kristen yang pindah ke gereja mereka. Maka terjadilah pembaptisan ulang. Tentu saja, bagi mereka, tidak terjadi pembaptisan ulang karena apa yang disebut “baptisan percik” tidak bisa dianggap sebagai baptisan sama sekali, sehingga mereka untuk pertama kalinya membaptis (dengan cara yang benar, yakni pembaptisan selam). Praktik ini tentu saja melukai kesatuan gereja-gereja Tuhan.

Maka dari itu, kita yang tidak menganggap cara baptisan memengaruhi keabsahan sebuah baptisan mau tidak mau harus memasuki perdebatan tersebut dan menunjukkan bahwa cara percik pun memiliki keabsahan secara alkitabiah. Bahkan–yang mengejutkan!–kita pun bisa membuktikan bahwa justru baptisan perciklah yang diindikasikan oleh Alkitab dan gereja mula-mula sebagai cara yang dipakai sejak dulu; bukan baptisan selam.

Yohanes Pembaptis dan Baptisan Yesus

Banyak pendukung baptisan selam menyatakan bahwa pembaptisan yang diterima oleh Yesus dari Yohanes Pembaptis merupakan baptisan selam, sebab Yesus dibaptis di sungai Yordan dan Alkitab menyatakan bahwa Yesus “keluar dari air” (Mat. 3:16; Mrk. 1:10). Mereka juga mengatakan bahwa catatan mengenai baptisan pertama kali muncul di dalam Perjanjian Baru di dalam sosok Yohanes Pembaptis. Itu sebabnya, dengan mengacu pada praktik baptisan yang dijalani Yesus menurut tafsiran mereka, mereka menegaskan bahwa selam merupakan cara baptisan yang absah. Kita akan membahas nanti makna “keluar dari air.” Namun, sekarang, kita perhatikan terlebih dahulu praktik pembaptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis.

Argumen di atas benar ketika dikatakan bahwa Perjanjian Baru mencatat baptisan pertama kali dalam hubungannya dengan Yohanes Pembaptis. Namun, tidaklah tepat jika dikatakan bahwa Yohanes Pembaptislah yang memulai ritual pembaptisan. Atribut “Pembaptis” tidak berarti bahwa ia penemu ritual pembaptisan, namun sekadar menyatakan apa yang dia lakukan–membaptis. Terhadap praktik membaptis yang dilakukannya, orang-orang Farisi bertanya penuh selidik tentang siapakah Yohanes Pembaptis; apakah ia nabi Elia ataukah seorang nabi yang akan datang. Dan Yohanes menjawab: Bukan! (Yoh. 1:21). Terhadap penolakan Yohanes itu, orang-orang Farisi kemudian bertanya, “Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?” (1:25). Pertanyaan ini mengindikasikan sebuah pemahaman di kalangan orang-orang Yahudi bahwa kitab suci mereka (Perjanjian Lama) memang menubuatkan seorang nabi yang akan membaptis.

Pertanyaannya, di manakah diindikasikan secara tersurat di dalam Perjanjian Lama bahwa akan datang Mesias atau Elia atau seorang nabi yang akan melakukan (baptisan) selam? Tidak ada sama sekali. Sebaliknya, ada catatan yang tersurat di dalam Perjanjian Lama, khususnya di dalam kitab-kitab para nabi, perihal “pemercikan” atau “pencurahan” yang dikaitkan dengan kedatangan Mesias.

Demikianlah ia akan membuat tercengang banyak bangsa, raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia; sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pahami. (Yes. 52:12)

Kata “membuat tercengang” dalam bahasa aslinya adalah nazah yang berarti “memerciki”. Beberapa versi Alkitab dalam bahasa Inggris memakai kata “sprinkle” (NKJV, NIV, ESV, NASB, dan lain-lain).

Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. (Yeh. 36:25)

Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu, dan berkat-Ku ke atas anak cucumu. (Yes. 44:3)

Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. (Yo. 2:28)

Aku akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan atas keluarga Daud dan atas penduduk Yerusalem, dan mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam, dan akan meratapi dia seperti orang meratapi anak tunggal, dan akan menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung. (Zak. 12:10)

Jelaslah bahwa orang-orang Yahudi mengenali nubuat tentang pencurahan atau pemercikan “dari atas” (dari Allah) “ke bawah” (kepada manusia) yang dikaitkan dengan kedatangan Mesias itu. Pertanyaan orang-orang Farisi menandakan bahwa mereka mengenali pembaptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis dan langsung mengaitkannya dengan nubuat-nubuat di atas. Ini alasan pertama mengapa kita tak perlu ragu memercayai bahwa pemercikan atau pencurahan adalah cara baptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis, termasuk terhadap Yesus.

Lalu, bagaimana dengan catatan Injil tentang Yesus yang dibaptis dan keluar “keluar dari” air (Mat. 3:16; Mrk. 1:10)? Kata Yunani yang dipakai di sini adalah apo (“dari”; lawan dari eis, “menuju”) bukan ek (“dari dalam”; lawan dari ein, “ke dalam”). Jadi, tidak ada indikasi bahwa Yesus diselamkan ke dalam (ein) air untuk kemudian keluar dari dalam (ek) air.

Hal ini konsisten bukan hanya dengan penjelasan mengenai Yohanes Pembaptis di atas, namun juga dengan banyak lukisan pada abad pertama yang menunjukkan pembaptisan yang dilakukan di tepian sungai. Dalam lukisan-lukisan tersebut, yang dibaptis dan yang membaptis berdiri di dalam air setinggi pinggang, kemudian si pembaptis mengambil air dengan tangannya dan mencurahkannya ke atas kepala orang yang dibaptis.

Rowland S. Ward, dalam bukunya, Baptism in Scripture and History (1991), menunjukkan bahwa telah ditemukan kurang-lebih 400 contoh bejana baptisan (fonts) yang berasal dari gereja-gereja perdana antara tahun 230-680. Hampir semuanya mengindikasikan pemakaian bejana tersebut untuk baptisan percik atau curah. Kedalamannya berkisar antara 35cm dan 1 meter; namun sebagian besar sedalam 60cm, separuh dari kedalaman yang lazim dipakai oleh kelompok baptisan selam pada masa kini.

Pembaptisan Musa MENURUT IBRANI 9

Pembuktian lain tentang cara Perjanjian Lama memahami pembaptisan sebagai pemercikan atau pencurahan muncul di dalam Ibrani 9. Ayat 10 menyatakan, karena semuanya itu, di samping makanan minuman dan pelbagai macam pembasuhan, hanyalah peraturan-peraturan untuk hidup insani, yang hanya berlaku sampai tibanya waktu pembaharuan.

Kata “pembasuhan” dalam bahasa aslinya adalah baptismois, yang secara harafiah berarti “pembaptisan-pembaptisan.” Apa yang dimaksud oleh penulis Surat Ibrani dengan “pembaptisan-pembaptisan?” di sini? Perbandingan berikut ini menegaskan bahwa yang dimaksud tak lain adalah pemercikan. Hukum Taurat sama sekali tidak mengenal penyelaman sebagai modus “baptisan” penyucian.

IBRANI 9 & HUKUM TAURAT

Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah. (Ibr. 9:13) Bagi orang yang najis haruslah diambil sedikit abu dari korban penghapus dosa yang dibakar habis, lalu di dalam bejana abu itu dibubuhi air mengalir. Kemudian seorang yang tahir haruslah mengambil hisop, mencelupkannya ke dalam air itu dan memercikkannya ke atas kemah dan ke atas segala bejana dan ke atas orang-orang yang ada di sana, dan ke atas orang yang telah kena kepada tulang-tulang, atau kepada orang yang mati terbunuh, atau kepada mayat, atau kepada kubur itu; (Bil. 19:17-18)
Sebab sesudah Musa memberitahukan semua perintah hukum Taurat kepada seluruh umat, ia mengambil darah anak lembu dan darah domba jantan serta air, dan bulu merah dan hisop, lalu memerciki kitab itu sendiri dan seluruh umat, (Ibr. 9:19). Sesudah itu Musa mengambil sebagian dari darah itu, lalu ditaruhnya ke dalam pasu, sebagian lagi dari darah itu disiramkannya pada mezbah itu… Kemudian Musa mengambil darah itu dan menyiramkannya pada bangsa itu serta berkata: “Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini.” (Kel. 24:6, 8 )
Dan juga kemah dan semua alat untuk ibadah dipercikinya secara demikian dengan darah. (Ibr. 19:21) Domba itu disembelih, lalu Musa menyiramkan darahnya pada mezbah sekelilingnya. (Im. 8:9)

Lalu ia harus mengambil sedikit dari darah lembu jantan itu dan memercikkannya dengan jarinya ke atas tutup pendamaian di bagian muka, dan ke depan tutup pendamaian itu ia harus memercikkan sedikit dari darah itu dengan jarinya tujuh kali. (Im. 16:14)

Tetapi, bukankah Ibrani 9:10 menyebutkan adanya “pelbagai macam pembasuhan (baptisan)”? Apa maksudnya? Ternyata maksud dari ayat ini bukanlah bahwa terdapat baptisan percik dan selam, namun hanya ada satu baptisan, yaitu baptisan percik, namun dengan banyak media: darah, air, atau abu (ay. 13, 19. 21).

DAN LAIN-LAIN

Ada banyak cara lain untuk menunjukkan dasar biblis yang mendukung penggunakan pemercikan atau pencurahan sebagai metode baptisan yang sesungguhnya. Tetapi kedua teks di atas kiranya cukup untuk memberi bukti bagi baptisan percik. Beberapa teks lain mungkin perlu dipertimbangkan secara sekilas:

  • KISAH PARA RASUL 2:41. Apakah para rasul memperoleh cukup banyak air untuk membaptiskan 3.000 orang petobat baru di Yerusalem dan apakah mereka cukup punya waktu untuk menyelamkan mereka satu per satu? Atau malah mereka memerciki mereka secara bersama-sama?
  • KISAH PARA RASUL 8:36-38. Memang bagian ini sering dipakai untuk mempertahankan pendapat tentang praktik baptisan selam. Ayat 38 berbunyi, “…keduanya turun ke dalam air… Filipus membaptis dia.” Kata “ke dalam” sebenarnya memakai kata Yunani eis yang lebih berarti “menuju ke”. Tidak dipakai kata ein yang berarti “ke dalam.” Jadi amat mungkin saat itu mereka berdua “menuju ke” air dan di sana sida-sida itu dibaptis dengan cara dipercik. Jika artinya adalah diselamkan, maka itu berarti keduanya menyelam, sebabnya teks kita berbunyi, “keduanya turun (menyelam) ke dalam air;” praktik semacam ini sungguh tidak bisa dibayangkan, selain berlawanan dengan praktik baptisan selam pada masa kini.
  • KISAH PARA RASUL 9:18. Apakah mungkin Paulus, segera setelah sembuh langsung menuju ke sungai untuk diselamkan dan segera sesudah itu kembali dan makan? Ataukah teks ini tidak mengesankan bahwa ia dibaptis (dengan cara dipercik) di tempat itu juga?
  • KISAH PARA RASUL 16:19-40. Apakah kisah ini tidak mengesankan bahwa baptisan bagi kepala penjara dan seisi rumahnya justru dilakukan di rumah dan bukan di kolam atau sungai?

Jadi, Bagaimana dengan Baptisan Selam?

Jika di atas telah dibuktikan bahwa cara baptisan yang berlangsung di dalam Alkitab dan gereja mula-mula adalah percik, khususnya karena gereja Perjanjian Baru berusaha meneruskan tradisi “baptisan” dalam Perjanjian Lama, pertanyaan kita kemudian: Bagaimana dengan cara selam? Apakah itu membuat baptisan tidak lagi absah? Tentu saja tidak. Jika mereka yang mempraktikkan baptisan selam mencela baptisan percik sebagai baptisan yang tak absah, maka kita yang mempraktikkan baptisan percik tidak boleh menyatakan baptisan selam tak absah. Mengapa? Sebab, kita memahami bahwa baptisan adalah tanda dan meterai anugerah keselamatan. Yang terpenting adalah keselamatan itu sendiri, bukan tanda yang menunjuk padanya.

Selain itu, kita juga memahami bahwa di dalam perkembangan tradisi Kristen, praktik baptisan selam secara berangsur mulai muncul di kalangan gereja-gereja, khususnya setelah agama Kristen diadopsi sebagai agama negara oleh Kaisar Konstanstinopel pada tahun 313. Sejak itu, penyelaman yang asing bagi tradisi Israel (selain bahwa tentara Mesir ditenggelamkan/diselamkan) kini mulai memasuki tradisi Kristen, bahkan memperoleh popularitas dalam waktu singkat. Pelaksanaan selam sebagai cara baptisan cepat diterima sebab ia memberi impresi yang sangat kuat bagi konsep pembersihan dan hidup baru; lebih terasa mantap bagi pengalaman religius manusia.

Namun, kita harus sungguh menyadari bahwa apa yang dirasa mantap tidak selalu benar. Karena itu, beban sebenarnya berada di pundak penganut baptisan selam untuk sungguh-sungguh membuktikan bahwa selam merupakan cara baptisan yang memang benar-benar didukung oleh Alkitab. Selama ini yang mereka pegang hanyalah bahwa baptizo atau bapto memiliki arti leksikal “mencelupkan” atau “menyelamkan.” Tetapi pemahaman leksikal ini tidak harmonis dengan praktik pembersihan yang dilakukan sejak zaman Perjanjian Lama.

Terhadap argumen yang menyatakan bahwa selam merupakan cara baptisan yang paling benar karena sesuai dengan arti leksikal dari kata Yunani baptizo, seseorang dari tradisi baptisan percik menyatakan;

…Kita tidak percaya bahwa kata Yunani “baptizo” tidak berarti penyelaman. Apa yang kita percaya adalah bahwa kata Yunani “baptizo” tidak dimaksudkan untuk mengajarkan sebuah metodologi tersendiri sebagai doktrin yang terikat pada definisi kultural dari dunia yang terpisah dari Perjanjian Lama. Jadi, kita tidak percaya bahwa para rasul menghendaki kita untuk mengakarkan doktrin baptisan pada budaya Yunani dan bukan pada Perjanjian Lama… (Thomas Weddle)

Penganut baptisan percik lazimnya tidak mempersoalkan cara baptisan; penganut baptisan selamlah yang selalu mempersoalkan cara baptisan. Lagipula, jika metodologi baptisan menjadi isu yang penting dan orang memercayai bahwa baptisan selamlah yang paling absah, maka cara berpikir itu akan memunculkan serentetan pertanyaan teknis lainnya: ketika seseorang dibaptis selam, wajah menghadap ke atas atau ke bawah? Dicelupkan secara vertikal atau seperti merebahkan sesuatu? Diselamkan tiga kali dengan mengikuti pola Trinitaris atau sekali celup? Dan lain sebagainya.

Jika memang terbukti bahwa percik bukanlah cara baptisan yang absah, maka praktik baptisan-ulang yang dilakukan oleh penganut baptisan selam dapat dipahami. Namun, jika ternyata baptisan percik merupakan cara yang sesuai dengan teks-teks Alkitab (seperti ditunjukkan di atas), maka praktik baptisan-ulang justru berarti pengingkaran terhadap anugerah Allah melalui Kristus yang disalibkan sekali untuk selama-lamanya itu. Jika baptisan melambangkan kematian Kristus di atas salib, maka baptisan-ulang akan sama artinya dengan menyalibkan Kristus untuk kedua kalinya (bdk. Ibr. 6:1-6; Rm. 6:10-11).

Pdt. Joas Adiprasetya

*) Saya berhutang banyak mengenai topik ini dari buku Jay Edward Adams, The Meaning and Mode of Baptism (1975).

Sumber: http://gkipi.org/isu-baptisan-percik-dan-baptisan-ulang/


Artikel lain yang terkait:



0 komentar:

Post a Comment